Fermentasi adalah salah satu reaksi oksidasi reduksi di dalam sistem biologi yang menghasilkan energi, dimana sebagai donor dan akseptor adalah senyawa organik. Makanan yang dibuat secara fermentasi telah diketahui sejak berabad-abad yang lalu di Negara-negara Timur Tengah. Ternyata makanan yang dibuat dengan fermentasi mampu memperpanjang daya simpan suatu produk. Tape singkong adalah suatu produk yang dihasilkan dari proses fermentasi, dimana terjadi suatu perombakan bahan-bahan yang tidak sederhana, sebagai contoh zat pati dalam singkong diubah menjadi bentuk yang sederhana dengan bantuan suatu mikroorganisme yang disebut ragi atau khamir.
Banyak keuntungan dari pangan fermentasi baik
dar sifat-sifat organoleptik atau inderawi, peningkatan nilai gizi dan
sanitasi. Keunggulan dari makanan fermentasi antara lain memberikan penampakan,
dan cita rasa yang khas, seperti tempe,oncom, tauco yang berbeda dengan
penampakan atau rasanya dengan bahan aslinya yaitu kedelai. Makanan hasil
fermentasi akan menjadi lebih awet, lebih aman, nilai cerna lebih meningkat,
serta memberikan flavour yang lebih baik.
Fermentasi merupakan proses perubahan
karbohidrat menjadi alkohol. Zat-zat yang bekerja pada proses ini ialah enzim
yang dibuat oleh sel-sel ragi. Lamanya proses peragian tergantung dari bahan
yang akan diragikan. Fermentasi terbagi dua tipe, tipe berdasarkan tipe
kebutuhan akan oksigen yaitu tipe aerobik yaitu membutuhkan oksigen dan
anaerobik atau tanpa oksigen. Tipe aerobik adalah fermentasi yang pada prosesnya
memerlukan oksigen.
Proses pembuatan kecap
Menurut SII kecap adalah cairan kental yang
megandung protein yang diperoleh dari perebusan kedelai yang telah diragikan,
ditambah gula aren, garam, dan rempah-rempah. Kecap merupakan salah satu bahan
pangan hasil fermentasi yang umum di negara-negara timur dengan warna coklat,
asin atau manis dan berbau tajam dan sering digunakan sebagai bahan pemberi
flavour. Kecap yang dihasilkan digolongkan menurut kualitasnya yaitu kecap
bermutu satu mempunyai kadar protein minimal 6% dan kecap mutu dua dengan kadar
protein 2%.
1.Proses Pengolahan
Untuk menghasilkan produk kecap yang baik
dengan mutu yang baik diperlukan bahan baku kedelai yang memenuhi syarat dan
mutu tinggi selain proses pengolahan dan faktor-faktor yang berkaitan dengan
proses-proses pengolahan.
a.
Bahan
Baku
Selama pembuatan kecap terjadi ekstraksi dan
peruaian komponen dari bahan baku. Kecap yang berkualitas baik akan diperoleh
dari bahan yang baik pula yaitu yang banyak mengandung protein seperti kedelai. Kandungan protein yag tinggi dari bahan
diharapkan banyak mengasilkan nitrogen terlarut dalam kecap.
b.
Mikroba
Fermentasi meliputi dua tahap, yaitu
fermentasi oleh kapang dan fermentasi dalam larutan garam.
1)
Fermentasi
oleh kapang
Fermentasi
oleh kapang akan menghasilkan koji merupakan sumber enzim proteolitik dan
amilolitik. Kapang yang digunakan adalah
Aspergillus oryzae dan Aspergillus soyae. Fermentasi
berlangsung selama 3 hari atau 72 jam, apabila lebih pendek dari 3 hari
enzim-enzim yang dihasilkan dianggap belum mencukupi untuk melakukan
fermentasi. Waktu fermentasi lebih panjang akan terjadi pembentukan spora yang
berlebihan yang dapat berpengaruh buruk terhadap aroma kecap. Suhu yang
digunakan selama fermentasi yaitu pada suhu kamar atau sekitar 20o-30oC
dengan kelembaban udara maksimum bagi kapang.
2)
Fermentasi
dalam larutan garam
Setelah fermentasi
oleh kapang selama 72 jam kemudian direndam dalam larutan garam sehingga semua
terendam atau dengan perbandingan 1 : 2 yaitu satu bagian koji direndam dalam
dua bagian larutan garam. Dalam fermentasi garam ini terjadi penguraian
enzim-enzim yang terbentuk selama pembuatan koji walaupun kapang sendiri sudah
mati.
Fermentasi
tahap kedua berlangsung selama 3-6 bulan pada suhu 15oC secara
bertahap dipanaskan sampai suhu 25oC terjadi fermentasi asam laktat
oleh bakteri asam laktat. Protein dan karbohidrat akan dihidrolisis oleh enzim
yang berasal dari Aspergillus oryzae atau dari enzim proteinase. Amilase
dan lainnya, kemudian bakteri osmofolik bertahan menurunkan pH dari sekitar 6.7
menjadi 5.
Setelah 3-6
bulan pada suhu 25oC-27oC akan dilanjutkan dengan tahap fermentasi
alkohol dimana suhu fermentasi diturunkan secara bertahap sampai 15oC
selama 4-5 bulan khamir osmofolik yaitu Sacharomyces rouxii menghasilkan
2.5% alkohol.
Tingkat
akhir adalah penyempurnaan fermentasi dan penuaan dimana khamir dan bakteri
melanjutkan fermentasi, pH akhir adalah 4.7-4.8 dengan kadar garam akhir 18%
dan menurunkan bahaya bakteri pembusuk.
Dengan adanya fermentasi asam laktat dan
fermentasi alkohol mengakibatkan produk mengandung berbagai senyawa yang dapat
menghasilkan flavour dan aroma hasil fermentasi, tetapi dapat juga ditambah
bumbu untuk meningkatkan flavour dan aroma kecap tersebut. Fermentasi ini yang
berperan adalah khamir osmofolik, karena tahan dan tumbuh pada kadar garam
dibawah 20%. Khamir osmofolik dapat tumbuh karena larutan garam mempunyai
tekanan osmotik yang optimum, sedangkan halofilik dapat juga tumbuh tetapi
hanya golongan halofilik lemah. Akibatnya tidak berpengaruh dalam fermentasi
ini, karena halofilik tumbuh pada kadar garam 20-30%.
Diagram alir pembuatan kecap ditunjukkan pada
gambar dibawah ini.
Daftar pustaka
Rohanah, A. (2002) Pembekuan. Fakultas
Pertanian Jurusan Teknologi Program Studi
Mekanisme Universitas Sumatera Utara. Digitized
by USU digital library.
Supli Effendi M.(2002) Teknologi Pengawetan
Pangan. Penertbit Lemlit Unpas
Bandung.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar